Enjoy with my blog...berbagi pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus.
RSS

Rabu, 17 Oktober 2012


PENYEBAB TUNAGRAHITA
Terdapat berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita. menurut Strauss factor tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor endogen (keturunan) dan faktor eksogen (di luar keturunan). Sedangkan ada ahli lain ada yang menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkannya yaitu faktor  lingkungan dan faktor individu. Adapun penyebab ketunagrahitaan yang sering ditemukan baik yang berasal dari faktor keturunan, maupun yang berasal dari faktor lingkungan antara lain :

1.    Faktor Genetis

a.    Kerusakan / kelainan biokimiawi
Ketunagrahitaan dapat terjadi karena kerusakan/kelainan biokimiawi. Menurut Waisman dan Gerritsen yang dikutip oleh Kirk dan Gallagher (1979: p.116) pada saat ini ada lebih dari 90 penyakit yang dapat menyebabkan kelainan metabolisme sejak kelahiran dan hal-hal tersebut dapat diturunkan secara genetik dalam arti suatu penurunan sifat. Mereka mengatakan: “Hal tersebut berlangsung akibat dari kerusakan dalam beberapa kromosom yang dikendalikan oleh system enzim tertentu yang diperlukan untuk melakukan fungsi normal suatu jaringan tubuh. Hubungan yang erat antara gen-gen dan enzim-enzim pengendali adalah signifikan dengan penyakit-penyakit yang timbul akibat kerusakan secara biokomia dan genetic yang berhubungan dengan keterbelakangan mental.”
Dalam hal ini ada beberapa substansi kimia yang dapat berpengaruh terhadap kondisi genetic abnormal misalnya materi kimia berupa karbohidrat, lemak, dan asam amino. Contohnya seperti phenylketonuria ( senyawa kimia yang bergugus keton yang tidaak boleh ada di dalam system ekskresi tubuh manusia) yang diketahui sebagai penyakit yang diturunkan serta dapat menyebabkan retardasi mental. Phenylketonuria dapat terjadi karena ketidakmampuan perombakan senyawa phenylalanine menjadi senyawa tyrosine yang diakibatkan karena defisiensi enzim hati khusus.

b.  Abnormalitas kromosom
Abnormalitas kromosom yang biasanya sering ditemukan yaitu sindroma Down atau sindroma mongol (mongolism).  Anak yang lahir dengan sindroma Down mempunyai IQ 20-60, dengan mayoritas IQ 30-50. Penyebab terjadinya sindroma Down yaitu karena kelainan pada kromosomnya, yaitu pada orang normal mereka mempunyai jumlah kromosom 46 yang tersusun dalam 23 pasang. Namun pada seseorang yang mengalami sindroma Down mempunyai 47 kromosom karena pasangan kromosom ke-21 terdiri dari 3 kromosom atau triplet yang biasa disebut trisomi (trisomy). Hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita karena satu pasang dari kromosom tersebut mengalami kerusakan dan bagian yang rusak tersebut bergabung dengan kromosom lainnya.

2.    Penyebab Tunagrahita pada Masa Prenatal
Tunagrahita dapat terjadi pada saat pertumbuhan embrio (di dalam kandungan) karena adanya kondisi yang menyebabkan kesalahan perkembangan system syaraf. Adapun contoh dari kondisi yang dapat menyebabkan kesalahan perkembangan itu antara lain :
a.    Infeksi Rubella (cacar)
Virus rubella yaitu virus yang mengenai ibu selama tiga bulan pertama kehamilan serta dapat menyebabkan kerusakan kongenital dan memungkinkan terjadinya retardasi mental pada anak. Kerusakan-kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini seperti gangguan penglihatan, tuli, penyakit hati, mikrosefali, dan retardasi mental.
b.    Faktor Rhesus (Rh)
Ketunagrahitaan yang disebabkan oleh faktor rhesus dapat terjadi, karena Rh-positif manusia yang berjumlah 86% di dalam tubuh manusia bertemu dalam satu aliran darah dengan Rh-negatif yang berjumlah 14%. Sehingga terbentuk aglutinia yang menyebabkan sel darah menggumpal dan menghasilkan sel-sel darah yang tidak dewasa di dalam sum-sum tulang.
3.    Penyebab Tunagrahita pada saat kelahiran (Perinatal)
Beberapa peristiwa yang bisa mengakibatkan ketunagrahitaan pada saat kelahiran yaitu luka-luka saat kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan prematuritas. Luka-luka yang terjadi saat proses kelahiran daapat menyebabkan kerusakan otak. Hal ini dapat dipengaruhi oleh lamanya proses kelahiran dan kesulitan kelahiran, penggunaan alat kedokteran, lahir sungsang, atau penyebab-penyebab lainnya. Selain itu kerusakan otak dapat dipengaruhi oleh sesak nafas karena kekurangan oksigen dalam otak selama proses berlangsung. Apabila suplai oksigen ke otak tidak cukup maka otak tidak dapat berfungsi, dan apabila kekurangan oksigen itu berlangsung beberapa menit maka kerusakan sel-sel otak tidak akan bisa diperbaiki lagi. Hal lain yang dapat menyebabkan ketunagrahitaan yaitu karena prematuritas, yaitu seperti yang dikemukakan oleh KirK dan Gallagher (1979: p.122) yang meneliti sebanyak 999 anak laki-laki yang lahir secara premature dan membandingkannya dengan 1.002 anak laki-laki yang lahir normal. Hasilnya menunjukkan lebih banyak anak-anak  yang lahir prematur yang menderita epilepsy, cerebral palsy, dan tunagrahita daripada anak-anak yang lahir secara normal.

4.    Penyebab Setelah kelahiran (Postnatal)
Hal-hal yang dapat menyebabkan ketunagrahitaan setelah kelahiran yaitu penyakit akibat infeksi yang diderita selama masa bayi dan masa awal anak-anak. Penyaakit akibat infeksi yang dapat menyebabkannya yaitu encephalitis dan meningitis.
Encephalitis yaitu peradangan system syaraf  pusat yang disebabkan oleh virus tertentu. Akibat dari encephalitis meliputi bermacam-macam kerusakan atau infeksi dini yang menyebabkan panas tinggi dan mungkin menimbulkan kerusakan sel-sel otak. Seperti encephalitis yang disebabkan oleh timah hitam atau keracunan timah hitam. Timah hitam menghasilkan racun yang menimbulkan terjadinya retardasi mental berat.
Meningitis yaitu kondisi yang berasal dari infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada selaput otak  (meninges) dan menimbulkan kerusakan pada system saraf pusat, sehingga memungkinkan terjadinya retardasi mental.
5.    Faktor  Lingkungan (Sosial Budaya)
Salah satu ahli yang melakukan penelitian mengenai hubungan lingkungan terhadap fungsi intelektual anak yaitu Patton dan Polloway (1986: 188). Mereka melaporkan bahwa bermacam-macam pengalaman negatif atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi selama periode perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. Sedangkan peneliti lain melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan di daerah yang tingkat sosial ekonominya rendah, hal ini disebabkan ketidakmampuan lingkungan memberikan rangsang-rangsang yang diperlukan anak pada masa perkembangannya.
Pada keluarga dengan tingkat sosial- ekonomi yang rendah banyak dijumpai ketidakseimbangan nutrisi/gizi  dan kurangnya perawatan medis bagi anak maupun ibu hamil, sehingga menimbulkan efek yang merugikan terhadap perkembangan anak. Contohnya yaitu : ibu yang kurang mendapatkan perawatan kehamilan atau kurang memeriksakan kehamilanya  secara teratur, sehingga sering timbul komplikasi kehamilan yang dapat mempengaruhi kondisi bayi yang dikandungnya.
Faktor yang mempengaruhi lainnya yaitu pendidikan serta afeksi (kasih sayang). Latar belakang pendidikan orang tua sering dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan yang terjadi pada anak. Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsangan-rangsangan positif  dalam masaa perkembangan anak dapat menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan. Sedangkan peran afeksi (kasih sayang) orang tua, khususnya ibu juga dianggap berperaan. Pada tahun pertama anak di kehidupannya, anak memiliki keterikatan yang sangat besar terhadap kasih sayang dan perhatian ibunya. Apabila ibu anak tersebut kurang memiliki kontak dengan sang anak seperti mengajaknya berbicara, tersenyum, bermain maka akan mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan menutp diri dari anak. Keadaan seperti itu pada akhirnya mengakibatkan anak sulit menerima rangsangan – rangsangan dari luar. Kondisi tersebut akan berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik perkembanfan fisik maupun perkembangan mental intelektualnya.