PENYEBAB TUNAGRAHITA
Terdapat
berbagai faktor yang dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita. menurut
Strauss factor tersebut dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor endogen
(keturunan) dan faktor eksogen (di luar keturunan). Sedangkan ada ahli lain ada
yang menyebutkan bahwa faktor yang menyebabkannya yaitu faktor lingkungan dan faktor individu. Adapun
penyebab ketunagrahitaan yang sering ditemukan baik yang berasal dari faktor
keturunan, maupun yang berasal dari faktor lingkungan antara lain :
1. Faktor
Genetis
a. Kerusakan
/ kelainan biokimiawi
Ketunagrahitaan dapat terjadi karena
kerusakan/kelainan biokimiawi. Menurut Waisman dan Gerritsen yang dikutip oleh
Kirk dan Gallagher (1979: p.116) pada saat ini ada lebih dari 90 penyakit yang
dapat menyebabkan kelainan metabolisme sejak kelahiran dan hal-hal tersebut
dapat diturunkan secara genetik dalam arti suatu penurunan sifat. Mereka
mengatakan: “Hal tersebut berlangsung akibat dari kerusakan dalam beberapa
kromosom yang dikendalikan oleh system enzim tertentu yang diperlukan untuk
melakukan fungsi normal suatu jaringan tubuh. Hubungan yang erat antara gen-gen
dan enzim-enzim pengendali adalah signifikan dengan penyakit-penyakit yang
timbul akibat kerusakan secara biokomia dan genetic yang berhubungan dengan
keterbelakangan mental.”
Dalam hal ini ada beberapa substansi
kimia yang dapat berpengaruh terhadap kondisi genetic abnormal misalnya materi
kimia berupa karbohidrat, lemak, dan asam amino. Contohnya seperti
phenylketonuria ( senyawa kimia yang bergugus keton yang tidaak boleh ada di
dalam system ekskresi tubuh manusia) yang diketahui sebagai penyakit yang
diturunkan serta dapat menyebabkan retardasi mental. Phenylketonuria dapat
terjadi karena ketidakmampuan perombakan senyawa phenylalanine menjadi senyawa
tyrosine yang diakibatkan karena defisiensi enzim hati khusus.
b. Abnormalitas kromosom
Abnormalitas kromosom yang biasanya
sering ditemukan yaitu sindroma Down atau sindroma mongol (mongolism). Anak yang lahir dengan sindroma Down
mempunyai IQ 20-60, dengan mayoritas IQ 30-50. Penyebab terjadinya sindroma
Down yaitu karena kelainan pada kromosomnya, yaitu pada orang normal mereka
mempunyai jumlah kromosom 46 yang tersusun dalam 23 pasang. Namun pada
seseorang yang mengalami sindroma Down mempunyai 47 kromosom karena pasangan
kromosom ke-21 terdiri dari 3 kromosom atau triplet yang biasa disebut trisomi
(trisomy). Hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menjadi tunagrahita karena
satu pasang dari kromosom tersebut mengalami kerusakan dan bagian yang rusak
tersebut bergabung dengan kromosom lainnya.
2. Penyebab
Tunagrahita pada Masa Prenatal
Tunagrahita dapat terjadi pada saat
pertumbuhan embrio (di dalam kandungan) karena adanya kondisi yang menyebabkan
kesalahan perkembangan system syaraf. Adapun contoh dari kondisi yang dapat
menyebabkan kesalahan perkembangan itu antara lain :
a. Infeksi
Rubella (cacar)
Virus rubella yaitu virus yang mengenai
ibu selama tiga bulan pertama kehamilan serta dapat menyebabkan kerusakan
kongenital dan memungkinkan terjadinya retardasi mental pada anak.
Kerusakan-kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh penyakit ini seperti gangguan
penglihatan, tuli, penyakit hati, mikrosefali, dan retardasi mental.
b. Faktor
Rhesus (Rh)
Ketunagrahitaan yang disebabkan oleh faktor
rhesus dapat terjadi, karena Rh-positif manusia yang berjumlah 86% di dalam
tubuh manusia bertemu dalam satu aliran darah dengan Rh-negatif yang berjumlah
14%. Sehingga terbentuk aglutinia yang menyebabkan sel darah menggumpal dan
menghasilkan sel-sel darah yang tidak dewasa di dalam sum-sum tulang.
3. Penyebab
Tunagrahita pada saat kelahiran (Perinatal)
Beberapa peristiwa yang bisa
mengakibatkan ketunagrahitaan pada saat kelahiran yaitu luka-luka saat
kelahiran, sesak nafas (asphyxia), dan prematuritas. Luka-luka yang terjadi
saat proses kelahiran daapat menyebabkan kerusakan otak. Hal ini dapat
dipengaruhi oleh lamanya proses kelahiran dan kesulitan kelahiran, penggunaan
alat kedokteran, lahir sungsang, atau penyebab-penyebab lainnya. Selain itu
kerusakan otak dapat dipengaruhi oleh sesak nafas karena kekurangan oksigen
dalam otak selama proses berlangsung. Apabila suplai oksigen ke otak tidak
cukup maka otak tidak dapat berfungsi, dan apabila kekurangan oksigen itu
berlangsung beberapa menit maka kerusakan sel-sel otak tidak akan bisa
diperbaiki lagi. Hal lain yang dapat menyebabkan ketunagrahitaan yaitu karena
prematuritas, yaitu seperti yang dikemukakan oleh KirK dan Gallagher (1979:
p.122) yang meneliti sebanyak 999 anak laki-laki yang lahir secara premature
dan membandingkannya dengan 1.002 anak laki-laki yang lahir normal. Hasilnya
menunjukkan lebih banyak anak-anak yang
lahir prematur yang menderita epilepsy, cerebral palsy, dan tunagrahita
daripada anak-anak yang lahir secara normal.
4. Penyebab
Setelah kelahiran (Postnatal)
Hal-hal yang dapat menyebabkan
ketunagrahitaan setelah kelahiran yaitu penyakit akibat infeksi yang diderita
selama masa bayi dan masa awal anak-anak. Penyaakit akibat infeksi yang dapat
menyebabkannya yaitu encephalitis dan meningitis.
Encephalitis yaitu peradangan system
syaraf pusat yang disebabkan oleh virus
tertentu. Akibat dari encephalitis meliputi bermacam-macam kerusakan atau
infeksi dini yang menyebabkan panas tinggi dan mungkin menimbulkan kerusakan
sel-sel otak. Seperti encephalitis yang disebabkan oleh timah hitam atau
keracunan timah hitam. Timah hitam menghasilkan racun yang menimbulkan
terjadinya retardasi mental berat.
Meningitis yaitu kondisi yang berasal
dari infeksi bakteri yang menyebabkan peradangan pada selaput otak (meninges) dan menimbulkan kerusakan pada
system saraf pusat, sehingga memungkinkan terjadinya retardasi mental.
5. Faktor Lingkungan (Sosial Budaya)
Salah satu ahli yang melakukan
penelitian mengenai hubungan lingkungan terhadap fungsi intelektual anak yaitu
Patton dan Polloway (1986: 188). Mereka melaporkan bahwa bermacam-macam
pengalaman negatif atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi selama
periode perkembangan menjadi salah satu penyebab ketunagrahitaan. Sedangkan
peneliti lain melaporkan bahwa anak tunagrahita banyak ditemukan di daerah yang
tingkat sosial ekonominya rendah, hal ini disebabkan ketidakmampuan lingkungan
memberikan rangsang-rangsang yang diperlukan anak pada masa perkembangannya.
Pada keluarga dengan tingkat sosial-
ekonomi yang rendah banyak dijumpai ketidakseimbangan nutrisi/gizi dan kurangnya perawatan medis bagi anak
maupun ibu hamil, sehingga menimbulkan efek yang merugikan terhadap
perkembangan anak. Contohnya yaitu : ibu yang kurang mendapatkan perawatan
kehamilan atau kurang memeriksakan kehamilanya secara teratur, sehingga sering timbul
komplikasi kehamilan yang dapat mempengaruhi kondisi bayi yang dikandungnya.
Faktor yang mempengaruhi lainnya yaitu
pendidikan serta afeksi (kasih sayang). Latar belakang pendidikan orang tua sering
dihubungkan dengan masalah-masalah perkembangan yang terjadi pada anak.
Kurangnya kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya
pengetahuan dalam memberikan rangsangan-rangsangan positif dalam masaa perkembangan anak dapat menjadi
salah satu penyebab timbulnya gangguan atau hambatan dalam perkembangan.
Sedangkan peran afeksi (kasih sayang) orang tua, khususnya ibu juga dianggap
berperaan. Pada tahun pertama anak di kehidupannya, anak memiliki keterikatan yang
sangat besar terhadap kasih sayang dan perhatian ibunya. Apabila ibu anak
tersebut kurang memiliki kontak dengan sang anak seperti mengajaknya berbicara,
tersenyum, bermain maka akan mengakibatkan timbulnya sikap tegang, dingin dan
menutp diri dari anak. Keadaan seperti itu pada akhirnya mengakibatkan anak
sulit menerima rangsangan – rangsangan dari luar. Kondisi tersebut akan
berpengaruh buruk terhadap perkembangan anak baik perkembanfan fisik maupun
perkembangan mental intelektualnya.
1 komentar:
oh...gito to
Posting Komentar